Sunday, July 8, 2018

Mengapa minyak kelapa sawit



Judul diatas merupakan pertanyaan besar yang harus dijawab, karena masih banyak minyak nabati lainnya yang dapat digunakan sama seperti minyak sawit. Kenapa harus minyak sawit?
Kelapa sawit merupakan tanaman yang cukup tangguh terutama bila terjadi perubahan musim. Berbeda dengan tanamn penghasil minyak nabati lainnya. Tanaman kelapa sawit dapat menghasilkan dua jenis minyak sekaligus yaitu minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit. Berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa minyak sawit memiliki keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Beberapa keunggulan itu adalah :
  1. Tingkat effisiensi minyak tinggi sehingga mampu menempatkan CPO menjadi sumber minyak nabati termurah.
  2. Penggunannya sangat luas
  3. Sebagai sumber energi yang baik.
  4. Dengan karakteristik unik yang dimilikinya terutama dalam hal potensi kandungan vitamin E dan Kerotenoid, serta tidak mengandung asam lemak Trans beberapa penelitian telah banyak yang menunjukkan bahwa penggunaan minyak sawit dalam bahan makanan berpengaruh positif terhadap kesehatan tubuh.
  5. mengandung antioksidan alami (tokoferol dan toko trienol). Telah banyak penelitian dilakukan untuk membuktikan bahwa tokoferol dan tokotrienol bisa melindungi sel-sel dari proses penuaan dan penyakit degeneratif seperti kanker.
  6. Komposisi asam lemak seimbang dan mengandung asam lemak lenoleat sebagai asam lemak esensial.
  7. produktifitas minyak sawit tinggi yaitu 3.2 ton/ha, sedangkan minyak kedelai, lobak, kopra, dan minyak bunga matahari masing-masing hanya : 0.34, 0.51, 0.57, dan 0.53 ton/ha.
  8. Sifat Intercgeable nya cukup menonjol dibandingkan dengan minyak nabati lainnya karena memiliki keluwesan dan keluasaan dalam ragam kegunaan baik dibidang pangan maupun non pangan.
  9. Sekitar 80% dari penduduk dunia khususnya dinegara berkembang masih berpeluang meningkatkan konsumsi perkapita untuk minyak dan lemak terutama minyak yang harganya murah (minyak sawit).
  10. Terjadinya pergeseran dalam industri yang menggunakan bahan baku minyak bumi ke bahan yang lebih bersahabat dengan lingkungan yaitu oleokimia yang berbahan baku CPO, terutama dibeberapa negara maju seperti Amerika, Jepang dan Eropa Barat.
Minyak sawit juga memiliki keunggulan dalam hal susunan dan nilai gizi yang terkandung didalmnya. Kadar sterol dalam minyak sawit relatif lebih rendah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya yang terdiri dari sisosterol, compesterol, sigmasterol, dan kolesterol. Dalam CPO, kadar sterol berkisar 360 - 620 ppmdengan kadar kolesterolnya hanya sekitar 10 ppm atau sebesar 0.001% dalam CPO. Bahkan, dari hasil penelitian dinyatakan bahwa kandungan kolesterol dalam satu butir telur setara dengan kandungan kolesterol dalam 29 liter minyak sawit.minyak sawit dapat dikatakan sebagai minyak gorang nonkolesterol (kadar kolesterolnya rendah)

Selain kandungan kolesterol dalam minya swit yang rendah juga mengandung asam lemak tak jenuh yang dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Minyak kelapa sawit juga mengandung karoten (sumber provitamin A) yang berfungsi sebagai bahan obat anti kanker dan karoten deterofenol untuk bahan pengawet yang meningkatkan kemantapan minyak terhadap oksidasi (mencegah bau tengik). Kandungan lainny adalah tokoferol sebagai sumber vitamin E yang dapat melindungi kulitt dari oksidasi dan oleokemikal seperti asam lemak, metil ester, lemak alkohol, asam amino, dan gliserol yang dapat digunakan sebagai bahan baku minyak makan (margarin, minyak goreng, butter, dan minyak untuk pembuatan kue).

Monday, June 25, 2018

INFEKSI PENYAKIT PADA KELAPA SAWIT

Penyakit Busuk Akar
Patogen           : Rhizoctonia sp., Pythium sp., Fusarium sp.
Munculnya penyakit ditandai dengan memucatnya daun lalu tanaman mengalami kelayuan. Hal tersebut disebabkan pembusukan yang terjadi pada akar bibit kelapa sawit.
Pengendalian   : hindari perlukaan akar, sanitasi bibit sakit, menggunakan biofungisida yang mengandung Trichoderma sp (10 gram/polibag), menggunakan fungisida Thiram atau Benomil 0.1-0.2% dengan dosis 1 liter larutan/bibit.
Penyakit Busuk Daun (Antraknosa)
Patogen           : Botryodiplodia palmarum, Glomerella cingulata, Melanconium eaeidis.
Awal mula penyakit ditandai dengan bercak hijau pucat dari ujung daun, kemudian menjadi berwarna kecoklatan dan akhirnya membusuk.
Pengendalian   : Pemupukan berimbang, sanitasi daun sakit, penyemprotan dengan Dithane 0.2%, Benlate 0.3%, dan Antracol 0.2% (diaplikasikan satu minggu sekali selama satu bulan).
Penyakit Bercak Daun
Patogen           : Culvularia eragrostidis, Drechslera halodes, Cochiobolus carbonus.
Gejala ditandai dengan bercak coklat kecil yang tersebar hingga daun kering.
Pengendalian   : Jangan terlambat pindah tanam dari pre nursery ke main nursery, pemupukan berimbang, sanitasi daun sakit, penyemprotan dengan Dithane 0.2%, Benlate 0.3%, dan Antracol 0.2% (diaplikasikan satu minggu sekali selama satu bulan).
Penyakit Busuk Pangkal Batang
Patogen           : Ganoderma boninense
Gejalanya ialah terjadi pembusukan pada pangkal batang yang diikuti dengan tumbangnya pohon. Daun pada pelepah menjadi berwarna kuning mirip dengan kekurangan unsur hara Nitrogen hingga mengalami nekrosis. Selain itu, gejala dapat dilihat jika terjadi “daun tombak” akibat pasokan air yang terhambat. Pada tanaman umur 15 tahun, biasanya diikuti dengan menggantungnya pelepah (sengkleh).
Pengendalian   : sanitasi akar dan batang yang terinfeksi dengan cara dibakar, pembongkaran tanaman terinfeksi, pengendalian secara biologis dengan menggunakan agens antagonis yang mengandung Trichoderma sp 0.4 kg/lubang pada lubang tanam.
Penyakit Busuk Tandan
Patogen           : Marasmius palmivorus
Gejalanya ialah tandan busuk akibat infeksi jamur Marasmius palmivorus. Bagian dalam buah berwarna hitam busuk.
Pengendalian   : Mengurangi kelembaban udara dengan penunasan secara teratur, membuang tandan yang telah busuk, menyemprotkan fungisida sikloheksimid, kaptafol dengan konsentrasi 0.1-0.2% (volume semprot 300 L/ha) dengan interval 2 minggu.
Penyakit Busuk Pucuk
Patogen           : Erwinia carotovora
Gejala awal penyakit terlihat jelas pada daun pupus menjadi kering berwarna abu-abu, kemudian pada pangkalnya patah. Jaringan pada pangkal pupus telah membusuk, basah dan berbau busuk. Selanjutnya penyakit akan menyerang titik tumbuh. Gejala lanjutan pada penyakit yang terserang cukup berat, titik tumbuhnya rusak sama sekali dan jika batangnya dibor akan mengeluarkan banyak cairan berwarna kuning dan berbau busuk. Diduga serangan terjadi karena defisiensi Boron.
Pengendalian   : tanaman yang sakit (sebelum titik tumbuhnya busuk) dapat dikendalikan dengan memotong semua jaringan yang sakit dengan posisi agak di bawah bagian yang terinfeksi, lalu oleskan fungisida sistemik binomil dengan dosis 5 gram per pohon pada bagian yang telah dipotong untuk melindungi dari serangan mikroorganisme. Pohon yang terserang berat harus segera dibongkar.

Saturday, June 9, 2018

MANAJEMEN PANEN PADA KELAPA SAWIT

Agribisnis kelapa sawit membutuhkan organisasi dan manajemen yang baik mulai dari proses perencanaan bisnis hingga penjualan crude palm oil (CPO) ke konsumen. Manajemen adalah suatu proses kegiatan usaha untuk mencapai tujuan tertentu melalui kerjasama dengan orang lain. Sedangkan organisasi menurut (Sumardjo, 2010) adalah suatu kumpulan individu yang bersama-sama menjadi suatu sistem, melalui suatu hierarkhi jabatan dan pembagian kerja untuk berusaha mencapai tujuan tertentu. Apabila manajemen suatu perusahaan baik, tetapi organisasinya tidak baik, maka keadaan perusahaan tersebut tidak akan sukses. Sebaliknya, jika organisasi baik tetapi manajemen jelek, maka akan timbul mis-manajemen. Kinerja suatu perusahaan dapat dilihat dari sembilan unsur manajemen, yang meliputi pengelolaan sumberdaya manusia, pengelolaan modal, pengelolaan barang dan bahan, pengelolaan mesin-mesin, pengelolaan teknis lapangan, pengelolaan peluang pasar, pengelolaan waktu, pengelolaan sumberdaya alam, dan pengelolaan fakta menjadi data dan informasi (Risza, 2010).
Perencanaan dalam pemanenan dilakukan ketika tanaman akan beralih dari tanaman belum menghasilkan (TBM) ke tanaman menghasilkan (TM). Kegiatan perencanaan tersebut diantaranya penentuan jumlah tenaga pemanen, prosedur pelaksanaan, persiapan hancak panen, persiapan akses jalan panen dan perlengkapan panen, sistem administrasi, dan waktu pelaksanaan.
Pengorganisasian kegiatan panen dikelola oleh asisten divisi yang bertanggung jawab kepada estate manager. Seorang asisten divisi berhak memilih seorang mandor I sebagai pengawas dan penanggung jawab kegiatan lapangan. Pembagian tugas dan hancak karyawan panen dilakukan oleh mandor panen selain bertugas melakukan pengawasan terhadap anggotanya masing-masing. Setiap individu yang terlibat dalam organisasi panen harus memiliki kemampuan kerjasama dalam tim selain kemampuan teknis di lapangan.
Pengarahan dalam menjelaskan strategi untuk mencapai tujuan bersama adalah tanggung jawab manager dan asisten divisi. Seorang pemimpin perlu memiliki integritas dan komunikasi yang baik dalam memberi pengarahan sehingga staf dan karyawan pun paham dan bersemangat dalam mencapai tujuan bersama. Biasanya manager akan memberikan pengarahan terlebih dahulu kepada asisten divisi terkait pencapaian target produksi. Asisten divisi langsung merespon arahan tersebut dengan mengkoordinasikan kepada seluruh karyawan di divisi. Komunikasi yang tidak efektif kepada karyawan dapat menyebabkan pekerjaan tidak terarah sehingga terjadi pemborosan karena biaya yang dikeluarkan tidak mencapai target yang diinginkan. Dalam mempengaruhi karyawannya, seorang asisten dapat melakukan kekuasan ganjaran, yaitu menggunakan imbalan agar karyawan bekerja dengan baik, atau kekuasaan paksaan seperti memberikan sangsi apabila karyawan tidak bekerja dengan baik. Selain itu, karyawan pun dapat dipengaruhi oleh kekuasaan ahli berupa kemampuan teknis, pengalaman, dan kecerdasan teori yang dimiliki seorang pemimpin (Sumardjo, 2010).
Pengawasan menjadi fungsi terakhir dalam manajemen agar seluruh perencanaan dan  kegiatan dalam mencapai tujuan bersama dapat berjalan secara optimal. Seluruh standar kerja dan prestasi kerja karyawan harus selalu dievaluasi oleh seorang pemimpin. Hal tersebut juga dapat menjadi motivasi karyawan untuk selalu bekerja dengan baik. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan melihat laporan administrasi dan melihat langsung kondisi di lapangan. Selain kemampuan teknis dan teori, seorang pemimpin juga harus menguasai permasalahan yang terdapat di lapangan agar dapat segera diambil keputusan atau solusinya.

Saturday, June 2, 2018

PRUNING KELAPA SAWIT

plantersontheblog.blogspot.com

Plantersontheblog - Pruning Kelapa Sawit - Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di beberapa tempat, diketahui bahwa semakin banyak pelepah kelapa sawit pada tanaman maka akan semakin tinggi buah yang akan dihasilkan oleh tanaman tersebut. Hal ini disebabkan karena semakin banyak daun maka proses fotosintesis akan semakin besar terjadi.

Berdasarkan alasan diatas, akan sangat menguntungkan apabila pembuangan pelepah kelapa sawit dilakukan seminimal mungkin selama masa produksi.

Pembuangan pelepah yang berlebihan akan menyebabkan bertambahnya jumlah bunga jantan dan dengan sendirinya akan mengurangi jumlah dan berat tandan buah yang dihasilkan.

Akan tetapi jika pembuangan tidak dilakukan, maka akan timbul kesulitan pada saat memanen tandan buah. Oleh karena itu perlu diambil  langkah kebijaksanaan sebagai berikut :

Pruning untuk sanitasi

Pruning pertama dilakukan bersamaan dengan waktu pelaksanaan kastrasi. Hanya pelepah kering saja yang dibuang. (umur 17 bulan atau 19 bulan).

Pruning Pertama

Pruning pertama dilakukan sebelum pemanenan (harvesting) pertama. Semua pelepah yang berada di bawah tandan buah yang terendah dibuaang sehingga tandan buah yang terendah tersebut tidak perlu memiliki sangga buah.Setelah pruning pertama, tidak dilakukan lagi pruning sampai tanaman berumur 4 tahun tau sampai tandan buah yang terendah tinggi 1m dari permukaan tanah.

Pruning pada umur 4 tahun.

Ketika tanaman telah berumur 4 tahun dan tandan buah terendah berada pada ketinggian 1m dari tanah, maka pruning dapat dilakukan mengingat saat ini cukup banyak pelepah yang harus dibuang sehingga jika dilakukan pruning sejaligus akan menyebabkan beban berat (stress) pada tanaman tersebut. Oleh karena itu, pruning harus dilakukan dalam dua tahap sebagi berikut.
jika terdapat 8 lingkaran pelepah (spiral),  maka pruning pertama hanya dibuang 4 lingkaran pelepah saja.
2 – 3 bulan kemudian, 4 lingkaran pelepah tersebut dibuang dengan syarat pruning hanya dilakukan sampai 2 pelepah dibawah tandan  buah yang masak ( 2 sangga buah ).

Pruning pada umur 5 – 7 tahun.

Pruning dilakukan sekali dalam setahun.Harap diperhatikan setelah pruning dan pemanenan dilakukan pelepah yang masih tertinggal harus berjumlah antara 48 – 64 pelepah pada pokok-pokok yang sedang mengalami fase bunga jantan.Puring dilakukan hanya sampai 2 pelepah dibawah tandan buah yang masak (2 sangga buah)Untuk pelaksanaan pruning, agar digunakan system progressive pruning.

Pruning pada umur 8 – 14 tahun.

Dilakukan seperti butir 4 diatas, akan tetapi jumlah  pelepah yang tinggal setelah pruning/pemanenan adalah 40 – 48 pelepah atau 5 – 6 pelepah perspiral.

Pruning umur 15 tahun.

Dilakukan seperti butir 4 diatas, akan tetapi jumlah pelepah yang tinggal setelah pruning/ pemanenan adalah 32 pelepah atau 4 pelepah perspiral

7. Sistem Progressive Pruning

Yang dimaksud dengan sistem Progressive Pruning adalah Pruning dilakukan secara bertahap dan terus-menerus sepanjang tahun,pelapah yang lebih dari jumlah yang telah ditetapkan di atas raja yangdibuang :

5 - 7 tahun 48 - 64 pelepah8 - 14 tahun 40 - 48 pelepah15 tahun ke atas 32 pelepahPelaksanaan dari Progressive Pruning ini dilakukan oleh satu kelompok yang terdiri dari beberapa orang dan kelompok ini bertugas sebagaipruners terns mencrus sepanjang tahun.

Mengenai jumlah pemakaian tenaga per hektar per tahun dengan menggunakan sistem ini tidak melebihi jumlah tenaga yang dipakai pads sistem lama yaitu : maksimum 3 orang per hektar per tahun.- Sebaiknya setiap blok dilakukan rotasi pruning sekali sebulan atau sekali dug bulan tergantung kapada kondisi setempat.

Keuntungan dari sistem ini adalah untuk mengurangi stress tanamanpruning dilakukan secara sedikit demi sedikit dan terbagi rata dalam satutahunnya. Secara agronomi hal ini akan sangat menguntungkan.

Keterangan Umum       

- Pemanen harus diberi instruksi agar hanya memotong pelepah seminimal mungkin.
Pads waktu melakukan pusingan pruning pelepah yang dibuang hanyalah pelepah yang lebih dari jumlah yang telah ditetapkan di etas dan pelepah yang mulai kering.

- Pruning harus diusahakan dilakukan pads musim hujan (jika menggunakan sistem biases).
Untuk melakukan pruning pads pokok-pokok yang sedang dalam mass Ease bungs jantan, perhitungan pelepahnya harus dilakukan oleh Mandor atau Asisten sebelum pruning dilakukan oleh karyawan.

- Setiap melakukan pusingan pruning pembersihan (sanitation), buah-buah yang sudah tua dan busuk harus sekahgus dibuang.
Perhatian khusus harus diberikan pads tanaman muds, jugs kemungkinanterdapatnva Marasmins dan Thirataba, cukup besar sehingga buah-buah yang terserang hama dan penyakit tersebut harus dibuang.

Sekian dulu artikel kali ini sampai jumpa di kesempatan berikutnya. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Sekiranya mempunyai pertanyaan bisa disampaikan dikolom komentar dibawah ini.

Wednesday, March 28, 2018

PRODUK TURUNAN KELAPA SAWIT

PRODUK TURUNAN KELAPA SAWIT

Komoditas kelapa sawit yang memiliki berbagai macam kegunaan baik untuk industri pangan maupun non pangan.
Prospek pengembangannya tidak saja terkait dengan pertumbuhan permintaan minyak nabati dalam negeri dan dunia, namun terkait juga dengan perkembangan sumber minyak nabati lainnya, seperti kedelai, rape seed dan bunga matahari.

 Terlihat bahwa mulai periode 1998-2001 produksi minyak nabati dunia lebih kecil dari konsumsi minyak nabati dunia sehingga diperkirakan harga minyak nabati akan meningkat. Jika ditinjau untuk masing-masing komoditas diperoleh gambaran bahwa pertumbuhan konsumsi  yang cukup tinggi terjadi terutama pada tiga jenis minyak nabati, yaituminyak kedelai, minyak kelapa sawit dan rape seed. Namun demikian mulai periode 2003-2007 pangsa konsumsi minyak kelapa sawit  mengungguli pangsa konsumsi minyak kedelai,minyak bunga matahari dan minyak rape seed. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga tahun 2020.

Dari segi daya saing, minyak kelapa sawit mempunyai kemampuan daya saing yang cukup  kompetitif dibanding minyak nabati lainnya, karena: ( a) Produktivitas per-hektar cukuptinggi; (b) Merupakan tanaman tahunan yang cukup handal terhadap berbagai perubahan agroklimat; dan  (c) Ditinjau dari aspek gizi, minyak kelapa sawit tidak terbukti sebagai penyebabmeningkatnya kadar kolesterol, bahkan mengandung beta karoten sebagai pro-vitamin A.

Persaingan dalam perdagangan minyak kelapa sawit (CPO) sebenarnya hanya terjadi antara Indonesia dan Malaysia. Nigeria sebagai produsen nomor tiga lebih banyakmengalokasikan produksinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Malaysia yang merupakan produsen dan eksportir terbesar akhir-akhir ini berusaha secara konsisten mengolahminyak sawitnya sehingga volume ekspornya dalam bentuk minyak sawit (CPO) diperkirakan akan mulai tertahan. Keterbatasan lahan yang sesuai serta tingginya upah, juga akan menahanperluasan areal di Malaysia sehingga akan memperlambat laju ekspor. Di sisi lain, Indonesia sebagai negara produsen dan eksportir terbesar ke dua mempunyai peluang untuk meningkatkanekspornya. Indonesia dikenal sebagai negara paling efisien dalam memproduksi minyak sawit sehingga CPO Indonesia sangat kompetitif di pasar internasional. Dengan ketersediaanlahannya yang relatif luas, Indonesia berpeluang untuk meningkatkan produksi sehingga memacu pertumbuhan ekspor. Namun demikian, karena tingkat konsumsi dalam negeri masih meningkat pesat, laju peningkatan ekspor tampaknya juga akan terhambat.

Selain  sebagai sumber minyak makan, produk turunan kelapa sawit  ternyata masih banyak manfaatnya dan sangat prospektif untuk dapat lebih dikembangkan, antara lain:
Produk turunan CPO. Produk  turunan CPO  selain minyak makan  dapat dihasilkan margarine, shortening, Vanaspati (Vegetable ghee), Ice creams, Bakery Fats,  Instans Noodle,Sabun dan Detergent, Cocoa Butter Extender, Chocolate dan Coatings, Specialty Fats, Dry Soap Mixes, Sugar Confectionary, Biskuit Cream Fats, Filled Milk, Lubrication, Textiles Oilsdan Bio Diesel. Khusus untuk biodiesel, permintaan akan produk ini pada beberapa tahun mendatang akan semakin meningkat, terutama dengan diterapkannya kebijaksanaan dibeberapa negara Eropa dan Jepang  untuk menggunakan renewable energy.
Produk Turunan Minyak Inti Sawit. Dari produk  turunan  minyak inti sawit dapat dihasilkan Shortening, Cocoa Butter Substitute, Specialty Fats, Ice Cream, Coffee Whitener/Cream, Sugar Confectionary, Biscuit Cream Fats, Filled Mild, Imitation Cream, Sabun dan Detergent, Shampoo dan Kosmetik.
Produk Turunan Oleochemicals kelapa sawit. Dari produk  turunan  minyak kelapa sawit dalam bentuk oleochemical dapat dihasilkan  Methyl Esters, Plastic, Textile Processing, Metal Processing, Lubricants, Emulsifiers, Detergent, Glicerine, Cosmetic, Explosives, Pharmaceutical Products dan Food Protective Coatings.
Dari gambaran tersebut dapat  disampaikan bahwa prospek kelapa sawit masih sangat luas, tidak saja untuk pemenuhan kebutuhan minyak makan, tetapi juga untuk kebutuhanproduk-produk turunannya. Untuk lebih meningkatkan daya saing produk kelapa sawit dan turunannya agar lebih mempunyai daya saing, keterpaduan penanganan sejak dari kegiatanperencanaan, kegiatan on-farm, off-farm, dukungan sarana dan prasaran  serta jasa-jasa penunjangnya sangat diperlukan.

PROSES PENGEMBANGAN BUNGAN DAN BUAH KELAPA SAWIT


Tandan bunga terletak pada ketiak daun dan mulai muncul setelah tanaman berumur satu tahun di lapangan. Karena pada ketiak daun terdapat potensi untuk menghasilkan bakal bunga, maka semua faktor yang mempengaruhi pembentukan daun juga akan mempengaruhi potensi bakal bunga serta dapat juga mempengaruhi perkembangan bunga.

Bakal bunga terbentuk sekitar 33-34 bulan sebelum bunga mekar (anthesis), sedangkan pemisahan bunga jantan dan betina terjadi sekitar 14 bulan sebelum anthesis (Breure dan Menendez, 1990).
Penentuan jenis kelamin bunga merupakan proses penting dalam rasio seks kelapa sawit. Semakin tinggi rasio seks maka semakin banyak bunga betina, sehingga peluang untuk mendapatkan produktivitas tandan yang tinggi akan semakin besar. Akan tetapi, masih terdapat permasalahan kerawanan aborsi bunga betina ketika berkembang.

Penyebab aborsi bunga betina adalah karbohidrat yang kurang untuk perkembangan bunga, kurangnya ketersediaan air, dan pengurangan daun yang terlalu banyak sehingga tanaman mengalami cekaman. Kerawanan aborsi bunga biasanya terjadi pada lima bulan sebelum bunga mekar (Corley, 1976).


Tanaman kelapa sawit mulai berbuah pada umur 2.5 tahun setelah ditanam di lapang danbuahnya masak pada umur 5-6 bulan setelah penyerbukan. Buah yang telah matang akan lepas dari tandannya yang disebut dengan membrondol. Keadaan tersebut digunakan sebagai tandakematangan buah.

Tandan buah segar (TBS) dipanen saat kematangan buah ditandai oleh sedikitnya 1 brondolan telah lepas/kg TBS untuk tandan yang beratnya lebih dari 10 kg dan 2 brondolan untuk tandan yang beratnya kurang dari 10 kg (Fauzi et al., 2007). Menurut Naibaho (1998) apabila dalam buah tidak terjadi lagi pembentukan minyak, maka yang terjadi ialah pemecahan trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol sehingga buah mulai lepas dari tandan.

Sunday, March 25, 2018

KESESUAIAN LAHAN KELAPA SAWIT

Kesesuaian lahan kelapa sawit


kesesuaian lahan kelapa sawit





Dapat dibagikan kepada beberapa kategori. Walaupupun kelapa sawit bukanlah tanaman yang terlalu memilih lokasi penanaman, namun semakin baik kondisi lahan maka dapat dipastikan semakin baik pula penghasilan yang dapat ditunggu. Tentu lahan yang menyediakan unsur hara yang lebih banyak misalnya pasti menghasilkan buah lebih banyak pula dengan biaya yang lebih sedikit, begitu pula sebaliknya. Berikut beberapa faktor yang dapat mempengaruhi lahan kelapa sawit.

Keadaan Lahan

a. Ketinggian Tempat

Tanaman kelapa sawit bisa tumbuh dan berbuah hingga ketimggian tempat 1000 meter diatas permukaan laut (dpl). Namun, pertumbuhan tanaman dan produktivitas optimal akan lebih baik jika ditanam di lokasi dengan ketinggian 400m dpl.


b. Topografi


Kelapa sawit sebaiknya ditanam di lahan yang memiliki kemiringan lereng 0-12o atau 21%. Lahan yang kemiringannya 13o-25o masih bisa ditanami kelapa sawit, twtapi petumbuhannya kurang baik. Untuk lahan yang kemiringannya lebih dari 25o sebaiknya tidak dipilih karena menyulitkan dalam pengangkutan buah saat panen dan beresiko terjadi erosi.

c. Drainase

Tanah yang sering mengalami genanganair umumnya tidak disukai tanaman kelapa sawit karena akarnya membutuhkan banyak oksigen. Drainase yang jelek dapat menghambat kelancaran penyerapan unsure hara dan proses nitrifikasi akan terganggu, sehingga tanaman akan kekurangan unsure nitrogen (N). karena itu, drainase tanah yang akan dijadikan lokasi perkebunan kelapa sawit harus baik dan lancar, sehingga ketika musim hujan tidak tergenang.

d. Tanah

Kelapa sawit dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti tanah podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, dan alluvial. Tanah gambut juga dapat di tanami kelapa sawit asalkan ketebalan gambutnya tidak lebih dari satu metter dan sudah tua (saphrik). Sifat tanah yang perlu di perhatikan untuk budi daya kelapa sawit adalah sebagai berikut

1. Sifat Fisik Tanah

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik di tanah yang bertekstur lempung berpasir, tanah liat berat, tanah gambut memiliki ketebalan tanah lebih dari 75 cm; dan berstruktur kuat.

2 . Sifat Kimia Tanah

Tanaman kelapa sawit membutuhkan unsure hara dalam jumlah besar untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dibutuhkan kandungan unsure hara yang tinggi juga. Selain itu, pH tanah sebaiknya bereaksi dengan asam dengan kisaran nilai 4,0-6,0 dan ber pH optimum 5,0-5,5.

Keadaan Iklim

Keadaan iklim sangat mempengaruhi proses fisiologio tanaman, seperti proses asimilasi, pembentukan bunga, dan pembuahan. Sinar matahari dan hujjan dapat menstimulasi pembentukan bunga kelapa sawit.
Jumlah curah hujan dan lamanya penyinaran matahari memiliki korelasi dengan fluktuasi produksi kelapa sawit. Curah hujan ideal untuk tanaman kelapa sawit adalah 2.000-2.500 mm per tahun dan tersebar merata sepanjang tahun. Jumlah penyinaran rata rata sebaiknya tidak kurang dari 6 jam per hari. Temperature sebaiknya 22-23o. keasaan angina tidak terlalu berpengaruh karenaan kelapa sawit lebih tahan terhadap angina kencang di bandingkan tanaman lainnya.
Bulan kering yang tegas dan berturut turut selama beberapa bulan bisa mempengaruhi pembentukan bunga (baik jantan maupun seks rasionya) untuk 2 tahun berikutnya.

Saturday, March 24, 2018

BEBERAPA ISTILAH YG SERING DIGUNAKAN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

BEBERAPA ISTILAH YANG SERING DIGUNAKAN DIPERKEBUNAN SAWIT

BERIKUT BEBERAPA ISTILAH YANG SERING DIGUNAKAN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Afdeling : Wilayah kerja suatu perusahaan yang meliputi areal seluas kurang  lebih 1.000  ha (areal datar) atau 800 ha (areal berbukit).
Ajir : Pancang yang merupakan titik dimanan tanaman di tanam di  lahan perkebunan.
Alat berat : alat-alat yang besar yang digunakan dalam pekerjaan land clearing seperti bulldozer dan excavator.
Ancak : Areal tertentu yang dikerjakan oleh seorang atau sekelompok pekerja dikebun kelapa sawit.
Angkong :Alat angkut material (TBS)berupa kereta sorong dengan satu roda dan memiliki dua kakipembantu yang terbuat dari pelat besi.
Bayfolan : pupuk daun yang digunakan untuk memupuk daun pada tanaman di pembibitan utama, kandungan utamanya adalah nitrogen.
Bedengan : tempat yang digunakan untuk pembibitan awal pada areal yang telah diratakan dengan  ukuran  lebar  1,2 meter dan panjangnya 20 meter  untuk setiap  bedengan mampu menampung bibit babybag sekitar 2000 pokok.
Bucket : bagian dari alat excavator (bagian ujungnya) yang berbetuk limas  yang digunakan untuk menggali dan mengangkut tanah.
Chainsaw : gergaji mesin yang digunakan untuk menebang kayu.
Cicle weeding : lingkungan disekitar individu tanamaan yang dijaga agar selalu dalam keadaan bersih, hal itu bertujuan agar  unsur hara (pupuk)  yang diberikan pada tanaman dapat terserap dengan baik, selain itu juga ketika panen memudahkan dalam pemungutan brondolan.
Double Stage (pembibitan dua tahap) : kecambah ditanam dalam babybag di pre nursery dan paling lambat umur tiga bulan bibit dipindahkan ke largebag di main nursery .
Etiolasi: pertumbuhan tanaman yang memanjang (abnormal) karena bersaing mendapatkan sinar matahari.
Garuk piringan : kegiatan manual untuk membersihkan tumbuhan penggangu, sampah atau yang lainya dalam radius kurang lebih 2 meter dari pokok kelapa sawit.
Gawangan : tempat atau bagian di antara titik tanam, gawangan digunakan sebagai jalan akses untuk pengangkutan buah dan juga perawatan tanaman.
Gawangan mati : gawangan yang digunakan sebagai areal rumpukan. Disebut gaawangan mati karena tidak dapat digunakan sebagai jalan karena banyak rumpukan kayu dan semak.
Grapple :  bagian dari alat excavator (bagian ujungnya) yang berbetuk seperti penjepit, seperti kepiting yang digunakan untuk menjapit dan merubuhkan kayu.
Helper : orang yang membantu operator excavator dalam mekakukan tugasnya, helper biasanya mengisikan bahan bakar, membawakan makanan, membuat pancang pembantu, bahkan menggantikan operator  saat lelah.
Imas : Pekerjaan memotong rapat semak dan pohon yang berdiameter lebih kecil dari 7,5 cm dipermukaan tanah.
Jalan koleksi (collection Road) : jalan yang berfungsi sebagai sarana untuk mengangkut produksi Tandan Buah Segar dari Tempat Pemungutan Hasil, jalan ini terdapat diantara blok dan berhubungan dengan jalan utama.
Jalan kontrol (Control Road) : jalan yang terdapat di dalam setiap blok. Jalan kontrol berfungsi untuk memudahkan pengontrolan areal pada tiap blok dan sebagai batas pemisah antar blok tanaman.
Jalan utama (main road) : jalan yang menghubungkan antara satu afdeling dengan afdeling lainnya maupun dari afdeling ke pabrik serta menghubungkan langsung pabrik dengan jalan umum.
Kantor divisi      : Kantor Wilayah kerja suatu perusahaan yang meliputi areal seluas kurang    lebih 1.000  ha (areal datar) atau 800 ha (areal berbukit).
Karyawan Harian Lepas (KHL) : Karyawan yang digaji berdasarkan harian masuk kerja.
Karyawan Harian Tetap (KHT) : Karyawan yang digaji tetap setiap bulannya walaupun tidak masuk dengan alasan tertentu.
Kastrasi : Pembuangan bunga pada fase peralihan dari TBM menjadi TM. Tujuan kastrasi untuk memperpanjang fase vegetative sehingga pada saat tanaman mulai menghasilkan ,fisik tanaman sudah cukup kuat.
Kation : ion bermuatan positif seperti Ca+, Mg+, K+, Na+, H+, Al3+
Kecambah : benih kelapa sawit yang berasal dari pusat penelitian benih yang digunakan sebagai bibit pada perkebunan kelapa sawit. Kecambah diberi nama sesuai dari perusahaan atau tempat penelitiannya contoh Ppks, socfindo, lonsum dll.
Kohesi tanah : gaya tarik menarik antar molekul yang sama, salah satu aspek yang mempengaruhi daya kohesi adalah kerapatan dan jarak antar molekul dalam suatu benda, bila kerapatan semakin besar maka kohesi yang didapatkan semakin besar.
Konsolidasi : kegiatan  mengisi  kembali  polybag  dengan tanah, hal itu dikarenakan tanah yang telah terisi  ke dalam  polybag  memadat.
Land Clearing : kegiatan pembukaan lahan meliputi kegiatan merintis, pembuatan blok dan jalan, serta perumpukan dan pembersihan lahan.
Main nursery : pembibitan utama, yaitu pembibitan dari umur 3 bulan sampai dipindahkan ke lapangan  (umur 12 bulan).
Meothrin : insektisida dan akarisida golongan piethroid berspektrum luas dan juga beraktivitas sebagai akarisida. Meothrin 50 nEC bekerja sebagai racun kontak dan lambung berbentuk cairan berwarna putih bening yang dapat membentuk emulsi dalam air, efektif mengendalikan hama tanaman.
Pancang staking atau pancang jalur perumpukan kayu : pekerjaan mengukur dan memasang patok jalur perumpukan kayu.
Pengawas alat berat : orang yang bertugas mengawasi pekerjaan alat berat dalam merumpuk.
Plastisitas tanah : perbedaan batas cair dan batas plastisitas suatu tanah atau sering disebut dengan PI (plasticity Index). Yang mempengaruhi plastisitas tanah adalah batas cair dan batas plastic
Pre nursery : pembibitan awal, dimulai dari bibit kecambah sampai umur 3 bulan.
Premi : gaji atau bayaran yang diberikan setelah  karyawan mencapai target kerja yang ditentukan, biasanya dihitung per satuan atau per jam (1 jam premi Rp5500).
Ratgon  : merupakan rodentisida (racun) anti koagulan. Bentuknya seperti balok berwarna hijau. Ratgon dipasang di lubang-lubang pematang yang dihuni tikus.
Rintis    : kegiatan membuka hutan dengan parang dengan lebar 2 m . jalan rintis digunakan sebagai dasar awal untuk pembuatan jalan utama, jalan koleksi maupun blok.
Seleksi bibit : kegiatan bertujuan untuk memisahkan bibit normal dan abnormal.
Sensus tanaman : kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui jumlah tanaman yang mati, titik kosong, tanaman yang diserang berat hama.
Single Stage (pembibitan satu tahap) : kecambah langsung ditanam pada largebag sampai dengan siap tanam.
Spacing : kegiatan pengaturan jarak pada polybag yang telah diisi tanah di pembibitan main nursery.
Staking (Merumpuk) : (perun mekanis) yaitu kegiatan mendorong dan menimbun kayu hasil imasan dan tumbangan pada gawangan mati sejajar dengan baris tanaman dengan arah utara selatan.
Standar Operasional Prosedur (SOP) : standar atau dasar yang harus dipatuhi dalam perkebunan kelapa sawit.
Sumisansui : pipa yang digunakan untuk menyiram tanaman pada tahap pembibitan, pipa ini memiliki lubang kecil di setiap 10 cm yang jika ada air dengan tekanan tinggi akan menyemburkan air dalam bentuk uap.
Suntho : kompas yang berbentuk segi empat, penggunaannya adalah dengan diteropong dan memanfaatkan pancang sebagai patokan, di dalamnya terdapat angka derajat mulai dari 0 sampai 360.
Tali slink : tali yang terbuat dari kawat besi/ baja yang digunakan untuk mengukur atau membuat garis lurus, biasanya digunakan pada kegiatan pengaturan polybag pada main nursery  dan juga pembuatan titik tanam.
Tanaman belum  menghasilkan (TBM) : tanaman kelapa sawit yang berada pada umur mulai tanam hingga berumur kurang lebih 2,5 – 3 tahun.
Tiran : racun tikus yang dipasang ala tempos, obat dan alt untuk mengendalikan hama tikus dengan cara pengasapan pada lubang pematang yang dihuni tikus.
Topografi : adalah suatu bentuk dari dataran atau permukaan bumi, topografi  berpengaruh terhadap budi daya kelapa sawit.
Transplanting :  kegiatan menanam bibit dari pre nursery ke polybag di main nursery.
Weeding : Penyiangan yaitu kegiatan membersihkan gulma pada tanaman, bertujuan untuk mengurangi gulma yang dapat mengganggu penyerapan unsur hara tanaman.
Weeding atas : pembersihan gulma dibagian atas atau dipermukaan babybag.
Weeding bawah adalah pekerjaan membersihkan gulma di bawah babybag.
Zero burning      : Merupakan teknik pembukaan lahan untuk penananaman kelapa sawit tanpa  melalui proses pembakaran. Pembukaan lahan dilakukan dengan menggunakan alat berat seperti bulldozer dan excavator.

Monday, March 19, 2018

Dampak Serangan Hama Tikus

GEJALA SERANGAN TIKUS ( RATTUS SP ) PADA KELAPA SAWIT


 Dampak Serangan Hama Tikus




Kerugian biaya


Untuk menyulam bibit-bibit yang rusak/mati, jika rusaknya banyak, bibit-bibit yang belum rusak dikumpulkan dan ditanam sendiri, sisanya dengan bibit baru (digeser/disisip). Tidak jarang bibit-bibit tidak ada yang dapat digunakan lagi, sehingga harus menanam ulang. Ini dapat berjalan 2 sampai dengan 3 kali, kadang-kadang sampai 5 kali atau lebih. Jenis pekerjaan ini  mengeluarkan biaya yang besar karena bibit yang sudah mati tersebut harus diganti dengan bibit yang baru, ini membuktikan bahwa serangan hama tikus merupakan serangan hama yang sudah mencapai ambang ekonomis.Biaya satu bibit kelapa sawit adalah Rp 15.000/ polybag dikali dengan jumlah bibit yang terserang hama tikus dalam beberapa luas areal kelapa sawit.

Baca juga : GEJALA SERANGAN TIKUS ( RATTUS SP ) PADA KELAPA SAWIT
Baca juga : HAMA TIKUS DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT 
Kerugian produksi


Kerusakan yang tidak banyak, dengan sulaman tanaman menjadi tidak rata, jika dilakukan berulang kali lebih membuat umur tanaman menjadi berbeda-beda. Kerusakan pada pucuk menyebabkan tanaman tidak panjang selain menyebabkan siwilan. Serangan pada batang banyak tanaman roboh/putus sebelum waktunya ditebang.

 Dari hasil penelitian diketahui bahwa satu ekor tikus dapat mengkonsumsi daging buah atau mesocrap lebih dari 4 gram perhari sehingga kehilangan produksi mencapai 5 % dari produksi normal. Kebun kerasaaan PT Tolan Tiga Indonesia di kabupaten simalungun pada bulan juni 2009 menghadapi masalah yaitu serangan hama tikus yang mana hama tikus tersebut memakan buah mentah pada umur tanaman  5 tahun.Serangan ini tejadi di divisi atau afdeling tiga.

Hasil sensus hama   menyatakan bahwa tingkat kerugian produksi minyak kelapa sawit ini mencapai  220 kg/ha/tahun yang mana terbagi dari beberapa blok tanaman.Analisa dari PPKS Medan  menyatakan bahwa tikus juga membawa berondolan ke sarangnya sehingga secara langsung dapat mengurangi produksi sampai 5 % atau lebih atau 240 kg minyak sawit/ha/tahun jika populasi tikus mencapai 306 ekor/ha.

Saturday, March 17, 2018

GEJALA SERANGAN TIKUS ( RATTUS SP ) PADA KELAPA SAWIT

GEJALA SERANGAN TIKUS ( RATTUS SP ) PADA KELAPA SAWIT

GEJALA SERANGAN TIKUS ( RATTUS SP ) PADA KELAPA SAWIT
TIKUS ( RATTUS SP )


Tikus (rattus sp ) menyerang pada tanaman muda menyerang titik tumbuh atau umbut yang dimakannya dan menyebabkan tanaman mati. Kematian ini dapat mencapai 20 % atau lebih sehingga harus  disulam yang sudah tentu memakan biaya yang tinggi dan tertundanya sebagian tanaman untuk mulai dipanen  pada tanaman menghasilkan tikus akan memakan atau mengerat bunga, buah muda, maupun buah yang lebih tua.  Keratan tikus pada buah dapat menyebabkan peningkatan asam lemak bebas (ALB). Bunga yang diserang akan menyebabkan persentase buah pada tandan menjadi rendah. Serangan pada bunga sering  terjadi pada musim kering (kemarau). Yaitu pada kira kira bulan April sampai bulan Agustus setiap tahun.

Bibit bagal / pucuk yang baru ditanam dikerat batangnya dengan/tanpa mata dirusak, hanya jika kurang dalam menanamnya bibit jadi terbuka sehingga lekas mati karena cara memakannya dengan menarik-narik. Bibit yang sudah tumbuh/rayungan  dimakan di atas tanah, daun dan pupus menjadi layu dan kering, tanaman patah. Jika kurang dalam titik tumbuh turut rusak, maka tanaman akan mati. Jika titik tanaman tersebut tidak rusak, maka tanaman dapat tumbuh lagi. Tanaman yang pernah diserang daun - daunnya kelihatan seperti dipangkas dengan pisau tumpul.

Pada tanaman umur 2 – 3 bulan, daun-daun kelihatan seperti dipangkas dengan pisau tumpul. Pada tanaman yang sudah besar yang mencapai tinggi 2 m atau lebih, kerusakan dapat di dalam tanah, di atas tanah, dan di pucuk. Pada bagian tanaman di bawah tanah, akar rusak, daun menjadi layu, kuning kemudian kering. Tanaman mudah dicabut jika sudah mati. Pada ruas kerusakan ditemukan pada ruas ke- 5 sampai dengan ke- 9, tanaman mudah patah. Kerusakan pada pucuk terjadi lebih dari 25 – 35 cm di bawah sendi daun ialah pada tempat-tempat yang ruasnya lemah karena masih muda sekali kadang-kadang di sekitar titik tumbuh.
 Kerusakan tersebut dapat mengakibatkan patahnya pucuk, jika hal ini meliputi areal yang luas dapat terlihat jelas dari jauh karena menyerupai semacam atap.

Baca juga artikel terkait lainnya : HAMA TIKUS DI PERKEBUNAN KELAPA    SAWIT

 Siklus Hidup Tikus ( Rattus sp).


         Tikus adalah salah satu hama penting di Indonesia yang dapat merusak tanaman kelapa sawit, serangan hama tikus di tanaman kelapa sawit yang membahayakan pada tanaman belum menghasilkan  ( TBM )  di bandingkan pada tanaman menghasilkan. Bila yang diserang  pada tanaman belum menghasilkan pertumbuhan tanaman akan melambat karena hama tikus  menyerang titik tumbuh atau daun tombak tanaman kelapa sawit. Tikus merupakan hama utama dalam perkebunan kelapa sawit dan dapat menyebabkan kerusakan yang merugikan, baik pada TBM maupun TM. Pada tanaman TBM dapat menyebabkan kehilangan tanaman sampai 90 % sedangkan tanaman TM kehilangan minyak CPO mencapai 3 - 5 % per hektar/tahun apabila tidak ada pengendalian.

             Spesies tikus yang paling dikenal adalah mencit ( Mus sp) serta tikus got (Ratttus norvegicus) yang ditemukan hampir di semua negara serta merupakan hewan yang populer untuk di pelihara. Tikus dapat berproduksi pada usia 2 - 3 bulan dan masa kehamilan 19-21 hari. Seekor tikus betina bisa melahirkan 5 - 10 ekor setiap kelahiran dan dalam setahun bisa  melahirkan 5 - 10 kali  dengan  perbandingan jantan  dan betina: 50% : 50%. Mereka akan kawin lagi setelah 48 jam setelah melahirkan. Dengan perbandingan ini, sepasang tikus bisa menghasilkan  keturunan atau regenerasi populasi sebanyak 10.000 sampai dengan 15.000 ekor hama tikus pertahunnya.

Demikian sedikit pengenalan tentang gejala serangan tikus ( Rattus sp ) pada kelapa sawit, agar kita dapat mengantisipasi kehadirannya di perkebunan kita. 

Friday, March 16, 2018

HAMA TIKUS DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

HAMA TIKUS DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

HAMA TIKUS DI PERKEBUNAN KELPA SAWIT
Rattus Rattus argentiventer

Beberapa permasalahan dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Hama yang sering mengganggu tanaman kelapa sawit adalah salah satunya jenis hama mamalia. Hama tanaman dari golongan mamalia yaitu kelelawar (Pterepus vampyrus), bajing/tupai (Callosciurus notatusi), tikus (Rattus Rattus argentiventer), musang (Paradoxurus hermaphrodites), babi hutan, kera, dan gajah. Serangan hama-hama inilah yang merupakan kendala yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan tanaman di dalam sektor perkebunan.

Di dalam usaha pengendalian hama  perusahaan harus  mengambil tindakan atau keputusan  yang tepat  terhadap pengelolaan tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik sesuai dengan kriteria tanaman sehat. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama merupakan ancaman bagi keberhasilan pengelolaaan penanaman tanaman kelapa sawit yang nantinya akan berpengaruh kepada produktivitas dan produksi TBS (fruit fresh brunch).

   Perumusan Masalah


Serangan  tikus menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi lambat tumbuhnya dan dapat menurunkan produktivitas dari tanaman. Untuk itu dilakukan pengendalian secara kimiawi yaitu dengan menggunakan Klerat RM-B Berbahan aktif Bridivakum 0,005 % untuk menekan populasi dari hama tikus serta pengendalian hayati  dengan menggunakan musuh alami dari hama tikus yaitu burung hantu      (Tyto alba) sehingga populasi hama tikus dapat menurun.

  Tujuan 


Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji biaya pengendalian hama tikus (Rattus sp) secara kimiawi dan hayati.

  Manfaat Penelitian


Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1.      Sebagai bahan informasi untuk pengendalian hama tikus di perkebunan kelapa sawit.
2.      Sebagai bahan informasi bagi pembuat kebijakan.
3.      Sebagai bahan informasi bagi pihak - pihak yang membutuhkan

Populasi tikus hidup dan berkembang tergantung dari tersedianya makanan di lapangan dan tempat persembunyian. Untuk dapat berkembang biak perlu makanan yang banyak mengandung tepung. Pada musim kering jika air kurang, tkus kebutuhannya dengan memakan makanan yang banyak mengandung air.
Pada umumya tikus menyukai hidup di lubang-lubang bawah tanah. Sarang dibuat biasanya mempunyai lebih dari satu pintu. Pintu utama untuk jalan keluar dan masuk setiap hari dan pintu darurat yang digunakan dalam keadaan membahayakan. Misalnya pada saat dikejar predator ataupun pada saat gropoyokan tikus akan keluar dari pintu yang susah dijangkau. Pintu darurat ini disamarkan dengan cara ditutupinya dengan daun-daunan.Selain itu, sarang tikus juga terdiri dari berkelok-kelok.

Adapun klasifikasi hama tikus perkebunan kelapa sawit adalah :


Sub filum        : Vertebrata (bertulang belakang)
Phylum            : Chordata
klas                  : Mamalia (menyusui)
Ordo                : Rodentia (hewan pengerat)
Famili              : Muridae
Genus              : Rattus-rattus
Spesies            : Rattus sp

Perkembangbiakan tikus sangat cepat, umur 1,5 – 5 bulan sudah dapat berkembangbiak, setelah hamil 21 hari, setiap ekor dapat melahirkan 6 - 8 ekor anak, 21 hari kemudian pisah dari induknya dan setiap tahun seekor tikus dapat melahirkan 4 kali. Populasi tikus tergantung persediaan makanan dan tempat persembunyiannya. Untuk dapat berkembang biak perlu makan yang banyak mengandung tepung. Dalam kondisi yang tidak terkendali  populasi tikus dapat mencapai 300 ekor / ha.

            Breeding awal adalah sekitar 50 hari usia di kedua betina dan jantan, meskipun mungkin betina estrus tama mereka pada 25-40 hari. Mencit polyestrous dan berkembang biak sepanjang tahun ovulasi spontan. Lamanya siklus estrus 4-5 hari dan estrus itu sendiri berlangsung sekitar 12 jam terjadi di malam hari.

Wednesday, March 14, 2018

PERKEMBANGAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA

PERKEMBANGAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA

PERKEMBANGAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA


 Kelapa sawit sebagai tanaman pertama sekali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1848.  Tanaman kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911 lagi.Kita harus berterima kasih kepada perintis usaha perkebunan kelapa sawit  di Indonesia, beliau adalah Adrien Hallet, seorang Belgia yang telah belajar banyak tentang kelapa sawit di Afrika. Budidaya yang dilakukannya diikuti oleh  K. Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Sejak saat itu perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang pesat sampai yang anda lihat sekarang ini.

Secara umumnya penguasaan lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia untuk tahun 2011 didominasi oleh perkebunan milik rakyat, kemudian diurutan kedua perkebunan milik swasta, dan diurutan ketiga perkebunan milik Negara. Dengan data yang demikian areal perkebunan kelapa sawit Indonesia bertumbuh rata-rata 11 % per tahun. Dimana perkebunan rakyat tumbuh sebanyak 11.6 % pertahun, perkebunan Negara tumbuh sebanyak  5,4 % pertahun, dan perkebunan swasta ( pengusaha nasional dan asing ) tumbuh 12,8 % pertahun.

Lahan sawit rakyat tahun 2011 ada 3,8 juta ha ( 48 %) ,BUMN 617 ribu ha   ( 7%), dan swasta 3,2 juta ha (45 %). (Sumber informasi Koran Analisa tanggal 23 Mei 2011).  Para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit mengembangkan usahanya baik secara usaha mikro maupun usaha skala makro. Di dalam skala makro perusahaan perkebunan mempunyai tujuan diantaranya merencanakan pengembangan  luas areal dan skala mikro diantaranya pengembangan sumber daya genetik atau pengembangan bahan tanam kelapa sawit.

 Kemudian keuntungan dalam melakukan usaha perkebunan kelapa sawit nilai ekonomi cukup tinggi karena para investor menginvestasikan modalnya untuk perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit.

Monday, March 12, 2018

OIL PALM PROCEDURE - INDEX

OIL PALM PROCEDURE - INDEX

OIL PALM PROCEDURE- INDEX


Oil Palm Procedure -Index :

1.Nursery Preparition and Upkeep.

  • Oil palm Nursery Management
  • Adoratus Compressus
  • Apogonia Expeditionis
  • Hymomeces Squamosus
  • Spodoptera Litura
  • Tetranycus piercei
  • Aphids and Mealy bugs
  • Valanga Nigricornis
  • Oil Palm Nursery Fertiliser Schedule

2.Preparation And Planting.

  • The HGU- Preparation Survey and Mapping
  • Land Acquisition and Conpensation
  • Development Management
  • Development Timetable
  • Development Planning: Mapping and Block Listing
  • Depelopment Planning: Field Design and Layout
  • Depelopment Planning: Block Design and Layout
  • Legumme Establihment in Oil Palm
  • Palnting Densities and Lining
  • Planting Procedure

3.Immature Upkeep

  • Weeding Management For Immature Oil Palm
  • Pest and diseases
  • Fertiliser Schedule for Development Oil Palm
  • Supplyng Palms
  • Ablation and Sanitation 
  • Preparation for Harvesting

4.Harvesting

  • Crop Potential
  • Crop Forecasting - Black bunch count
  • The Harvesting Task
  • Harvesting Standard
  • Harvesting Discipline
  • Fruit Handling and Transport to Mill
  • Crop Measurement and Recording

Mature Upkeep

1.Weeding

  • Weed Control in Oil Palm
  • Spraying Conventions and Calibration of Equipment
  • Mature Weeding Management
  • Herbicides For Weed Control Of Noxious Weeds
  • Beneficial, Antagonostic and neutral Weed

2.Pest

  • Opverview of Pests and Diseases Management
  • Guide to the safe use of Agro Chemicals
  • Pesticides used to Control Pests in Oil Palm
  • Oil Palm Leaf Eater Control
  • Mahasena Corbetti (Bagworm)
  • Metisa Plana (Bagworm)
  • Crematopstche Pendula (Bagworm)
  • Setothosea Asigna (Nettle Caterpillar)
  • Setora Nitens (Nettle Caterpillar)
  • Darna Trima (Nettle Caterpillar)
  • Ploneta Dducta  (Nettle Caterpillar)
  • Birthosa Bisura (Nettle Caterpillar)
  • Oryctes Control
  • Tirathaba Control in Oil Palm
  • Rat Control in Oil Palm

3.Diseases

  • Fungicides Used to Control Disease in Oil Palm
  • Ganoderma Control in Oil Palm
  • Marasmius Palmivorus Bunch Rot in Oil Palm

4.Pruning and Frond Placement Policy

  • Pruning
  • Placement of Fronds on Flat Land
  • Placement of Fronds on Slopes and Terraces

5.Fertiliser Management

  • Fertiliser Mature Oil Plam
  • Visual Nutrient deficiency Symptoms
  • Timing and Placement of Fertilisers
  • Fertiliser Properties and Convertion Factors
  • Manuring Management

6.Utilisation of bi-product

  • Empty Bunch Application
  • Design and Control of Field Effluent Drains
  • Bunch Ash
  • Kernel Shell

7.Census and Survey Operations

  • Infiling and Supply
  • Field Marking Oil Palm
  • Planning For Future Replanting

8.Fieid Infrasructure

  • Roads
  • Bridges
  • Footpaths and Footbridges
  • Drains
  • Soil Water Conservation - Terraces and Bunds
  • Vihicles and Machinery
  • Buildings

Thursday, March 8, 2018

Teknik Zero Burning

Teknik Zero Burning

Teknik zero burning


Definisi


“Teknik zero burning adalah sebuah metode pembersihan lahan dengan cara melakukan penebangan tegakan pohon pada hutan sekunder atau pada tanaman perkebunan yang sudah tua misal kelapa sawit, kemudian dilakukan pencabikan (shredded) menjadi bagian-bagian yang kecil, ditimbun dan ditinggalkan disitu supaya membusuk/terurai secara alami”

Manfaat Teknik Zero Burning

     1.        Merupakan pendekatan ramah lingkungan yang tidak menyebabkan polusi udara;

       2.        Mengurangi emisi gas rumah kaca (GHG) terutama CO2;

     3.        Limbah biomasa tanaman (bahan organik) dapat terurai sehingga meningkatkan penyerapan air dan kesuburan tanah yang dapat mengurangi kebutuhan pupuk anorganik dan mengurangi resiko polusi air yang disebabkan oleh pencucian nutrisi di permukaan;

     4.        Penanaman bibit secara langsung pada timbunan limbah organik akan menambah manfaat agronomi (mempunyai nilai total nitrogen, potassium tertukar, kalsium dan magnesium yang lebih tinggi dan kehilangan nutrisi yang lambat);

       5.        Pelaksanaannya tidak bergantung pada kondisi cuaca;

     6.        Mempunyai periode keterbukaan lahan yang lebih singkat sehingga meminimalisasi dampak aliran permukaan (run off) yang dapat menyebabkan penurunan muka air tanah, subsiden dan polusi;

      7.        Pelaksanaan teknik zero burning dalam penanaman kembali Kelapa sawit akan memberikan keuntungan tambahan berupa pemanenan secara kontinyu (terus menerus) sampai Kelapa sawit ditebang.

Hambatan Pelaksanaan Teknik Zero Burning


     1.        Terdapatnya serangan hama Oryctes rhinocerous (sejenis serangga) dan penyakit Ganoderma boninense (sejenis jamur) terhadap tanaman yang dibudidayakan kecuali dilakukan tindakan pencegahan yang intensif sebelum dan selama pelaksanaan teknik zero burning;

     2.        Pada hutan sekunder dan rawa gambut, pelaksanaan zero burning membuat daerah ini rawan terhadap serangan Rayap Captotermes curvinaathusMacrotermes gilvus;

     3.        Timbunan kayu atau biomasa dapat menjadi tempat berkembang biak tikus;

     4.        Secara umum, teknik zero burning adalah lebih mahal untuk dilaksanakan terutama pada lahan dengan volume biomasa yang tinggi. Teknik ini juga membutuhkan peralatan mesin berat yang tidak mungkin dapat disediakan oleh perkebunan berskala kecil;

     5.        Pada saat musim kemarau, timbunan biomasa dapat mengalami pengeringan dan dapat menjadi sumber terjadinya kebakaran.

Teknik Zero Burning untuk Penanaman Kembali pada Lahan Gambut


Teknik zero burning dalam sistem penyiapan lahan dilakukan dengan-tahap yang sebagai berikut :

1. Perencanaan

  • Pembuatan desain yang mempertimbangkan lingkup pekerjaan, ketersediaan dari peralatan dan mesin yang dibutuhkan, waktu pelaksanaan dan anggaran biaya;

  • Pelatihan (training) atau field trip untuk personil atau kontraktor pelaksana yang kurang memahami teknik zero burning;

  • Penataan kembali jalur jalan atau sistem drainase; Jika lahan mempunyai sejarah terserang Ganoderma, dilakukan penanaman dengan tingkat kerapatan yang lebih tinggi.

2. Penanggulangan Ganoderma

  • Dilakukan sensus detail tanaman yang terserang Ganoderma, ditandai lalu dicatat;

  • Pohon yang terserang penyakit ditebang sebelum penanaman kemudian dilakukan pencabikan  (shredding) dan ditempatkan diantara baris menggunakan excavator.

3. Penentuan batas

  • Penentuan batas dilakukan dengan membuat baris tanaman baru,jalan, jalur pemanenan dan saluran drainase.

4. Pembuatan jalan dan saluran

  • Pembuatan saluran sekunder dapat dikerjakan sebelum atau sesegera mungkin setelah penebangan;

  • Pada kondisi saluran drainase lama tidak sesuai dengan layout yang baru maka harus ditimbun dengan tanah dan saluran drainase baru segera dibangun. Tetapi jika saluran drainase lama dapat
  • dipertahankan, maka dilakukan pengerukan lumpur sampai mempunyai kedalaman yang sama dengan saluran drainase yang baru;

  • Pada daerah datar, saluran drainase sekunder dibangun pada setiap empat atau delapan baris tanaman;

  • Pembuatan saluran drainase baru menggunakan double rotary ditcher• Buldozer atau excavator digunakan untuk membuat jalan baru, yang sebaiknya dibuat agak tinggi agar jalan tersebut tidak becek/basah.

5. Penebangan dan Pencabikan (shredding)

  • Tanaman yang sudah tua ditebang langsung menggunakan excavator’s;

  • Untuk efektifitas pencabikan (shredding), mata pisau pemotong dibuat dari high tensile carbon steel;

  • Batang pohon dipotong-potong, pemotongan secara normal dilakukan dimulai dari bagian bawah batang.

6. Penimbunan

  • Pada area dimana antara dua saluran drainase sekunder dibangun 4 baris tanaman, penimbunan material yang telah dipotong kecil-kecil dilakukan dipusat pada 4 baris tanaman diantara dua saluran sekunder

  • Pada area dimana antara dua saluran drainase sekunder dibangun 8 baris tanaman, penimbunan material hasil;

  • Pencabikan dilakukan secara bergantian antara baris tanaman diantara jalur drainase

7. Pembajakan dan penggaruan

  • Setelah penebangan, pencabikan (shredding) dan penimbunan selesai, pembajakan dan penggaruan dikerjakan sepanjang baris tanaman baru untuk menyiapkan areal permukaan tanam.

8. Penanaman tanaman polong-polongan (legume) sebagai tanaman penutup

  • Tanaman legume harus segera ditanam setelah penyiapan lahan selesai untuk memastikan kerapatan penutupan lahan dan mempercepat dekomposisi biomasa tanaman. Legume yang menutupi kayu akan mengurangi resiko kebakaran, mengurangi perkembangbiakan serangga Oryctes dan pertumbuhan rumput;

  • Selain itu legume dapat meningkatkan/memperbaiki kondisi fisik dan kimia tanah, terutama sebagai fiksasi nitrogen;

  • Tanaman legume yang sering digunakan adalah Kacang riji Pueraria javanica, Kacang asu  Calopogonium mucinoides dan Calopogonium caeruleum.   

9. Pembuatan lubang tanam dan penanaman Pembuat lubang tanam dan penanaman dapat dilakukan segera setelah penyiapan lahan selesai. Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan secara mekanis menggunakan alat pelubang tanaman.

10. Penumbukan/pencacahan(Pulverization)

  • Kebutuhan dilakukannya penumbukan tergantung pada resiko serangan hama Oryctes. Pada lahan dimana terjadi serangan Oryctes, terutama di sekitar pantai, penumbukan seharusnya dikerjakan dua sampai enam bulan setelah penebangan dan pencabikan (shredding) untuk mempercepat peruraian/pembusukan;

  • Penumbukan dapat dilakukan menggunakan sebuah modifikasi heavyduty rotary slasher atau mulcher yang dipasang pada traktor 80-100 HP.

11.Manajemen paska penanaman

Setelah penanaman, perhatian utama seharusnya diberikan pada:

  • Manajemen pengelolaan hama dan penyakit;

  • Pemantauan secara rutin terhadap kerusakan yang disebabkan oleh tikus dan jika memungkinkan dilakukan pembasmian dengan rodentisida.


Teknis Pemadaman Kebakaran


Teknis pemadaman merupakan langkah-langkah tentang bagaimana melakukan kegiatan pemadaman sesuai dengan tipe kebakaran dan mempersiapkan peralatan yang akan digunakan.

Teknis pemadaman yang dapat dilakukan pada daerah hutan dan lahan gambut adalah sebagai berikut :

  • Menentukan arah penjalaran api (arah penjalaran api dapat diketahui melalui pengamatan dari tempat yang lebih tinggi ataupun dengan memanjat pohon);

  • Sebelum dilakukan tindakan pemadaman, maka jalur transek yang jenuh air dibuat untuk menekan laju penjalaran api (berfungsi sebagai sekat bakar buatan) yang tidak permanen;

  • Untuk menghindari api loncat maka perlu dilakukan penebangan pohon mati yang masih berdiri tegak (snags). Karena ketika angin bertiup kencang, api yang telah merambat hingga ke puncak pohon mati ini bara apinya atau bahkan bagian batang yang masih membawa lidah api dapat terbang hingga mencapai lebih dari 200 meter;

  • Apabila pada daerah tersebut tidak ada sumber air maka yang harus dilakukan adalah membuat sumur bor. Kalau sumber air ada tetapi cukup jauh maka suplai air dilakukan dengan estafet (menggunakan beberapa pompa air). Jika dilakukan pembuatan sumur bor, maka koordinatnya perlu dicatat sehingga memudahkan dalam menemukan kembali titik-titik sumber air ini pada waktu-waktu berikutnya jika terjadi kebakaran lagi;

  • Pemadaman secara langsung sebaiknya dilakukan dari bagian ekor (belakang) atau sisi kiri dan kanan api. Jangan melakukan kegiatan pemadaman dari bagian depan (kepala api) karena akan sangat berbahaya. Tinggi nyala api (flame height) dan panjang lidah api (flame length) selalu berubah-ubah dan sukar diperkirakan arah dan laju penjalarannya; asapnya banyak dan panas, sehingga air yang disemprotkan menjadi tidak efektif (karena tidak kena langsung ke sumber api);

Pemadaman secara tidak langsung dapat dilakukan dengan teknik pembakaran terbalik (backing fire), yaitu pembakaran dilakukan berlawanan dengan arah penjalaran api yang dikombinasikan dengan pembuatan sekat bakar buatan;

  • Pemadaman dilakukan dengan teknik yang benar dan terkoordinir seperti halnya dalam penggunaan peralatan pompa mesin yang berkombinasi dengan peralatan tangan;

  • Pada daerah bekas terbakar terlebih dahulu dilakukan kegiatan mop-up (pembersihan sisa-sisa bara api) untuk memastikan bahwa api telah benar-benar padam dengan cara melakukan penyemprotan air pada permukaan lahan bekas terbakar, hal ini penting dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya kebakaran ulang;

  • Personil pemadam harus berjalan hati-hati dengan menggunakan bantuan papan dengan panjang sekitar 2 m agar tidak terperosok pada lubang bekas terjadinya kebakaran atau mengantisipasi kemungkinan timbulnya nyala api;

  • Pemadaman pada bagian permukaan dilakukan dengan melakukan penyemprotan terhadap sumber api secara terarah (tepat sasaran) dengan menggunakan mesin pompa. Penyemprotan dilakukan secara tepat sasaran dan efektif sehingga air tersedia yang jumlahnya terbatas dapat digunakan secara optimal. Untuk mencapai sasaran tersebut lakukan kegiatan pencacahan tunggak/batang dengan menggunakan parang sehingga api benar-benar dapat dikendalikan dan padam;

  • Apabila terjadi kebakaran tajuk, maka kegiatan pemadaman secara langsung dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan alat-alat berat seperti pesawat, traktor, buldozer; atau dilakukan metode pemadaman tidak langsung yaitu dengan melakukan pembakaran terbalik (pembakarandilakukan berlawanan dengan arah penjalaran api).

Pelaksanaan pemadaman pada kebakaran tajuk dengan alat alat seperti ini tidak terlalu memerlukan personil yang cukup banyak dalam mengontrol jalannya kegiatan pemadaman, namun disarankan agar cara ini dihindari pada lahan gambut karena arah penyebaran apinya sangat sulit untuk diperkirakan;

  • Jika terjadi kebakaran bawah (ground fire) terutama pada lahan gambut di musim kemarau maka dilakukan pemadaman dengan menggunakan stik jarum yang ujungnya berlubang. Dalam pelaksanaannya, nosel stik jarum dapat ditusukkan pada daerah sumber asap hingga bahan bakar gambut menjadi Gambar bagian-bagian api tampak seperti bubur karena jenuh air. Penusukan berulang-ulang dilakukan sampai apinya padam;

  • Pemadaman api sisa yang letaknya tersembunyi sangat diperlukan mengingat api semacam ini sering tertinggal/bersembunyi di bawah tunggak atau sisa batang yang terbakar di lahan gambut. Pemadaman api sisa semacam ini dapat dilakukan dengan membongkar/menggali dengan menggunakan cangkul/garu kemudian disemprot lagi dengan air agar betul-betul apinya padam (tidak berasap lagi). Api sisa semacam ini dapat berkobar kembali jika ia bertemu dengan bahan/gambut kering di bawahnya;

  • Pemantauan pada areal bekas terbakar dilakukan kurang lebih satu jam setelah pemadaman api sisa dengan tujuan untuk memastikan bahwa daerah tersebut sudah betul-betul bebas dari api.

Penyiapan Rambu dan Papan Peringatan